Sebuah Ruangan, Suatu Masa,di Sebuah Tempat

January 18, 2007

Aku ingat ketika pertama kali aku memasuki ruangan itu, ruangan itu memang tidak terlalu besar, paling-paling hanya berukuran 3 kali 4 meter. Di sudut langit-langit, sarang laba-laba tumbuh lebat lengkap dengan nyamuk serta sang pemilik sarang. Lantai kayunya juga sudah berwarna kelabu tertutup debu. Di sisi sebelah kanan, cahaya keemasan mencoba menembus sela-sela jendela yang terhalang gorden yang sudah rusak, sesekali gorden itu menari tertiup angin. Tapi ruangan itu adalah milikku, setidaknya aku kini mengetahui bahwa ini adalah ruanganku, setelah sekian lama tak kuacuhkan. Orang-orang menyebut ruangan itu “Hart”.

Hart memang istimewa, cahaya keemasan selalu menyelinap dari jendela sebelah kanan, di dalam Hart tak pernah ada malam, meski tak jarang gorden rusak itu menutupi cahaya keemasan hingga gulita-lah Hart-ku ini. Jadi, siang itu kubersihkan Hart, kumusnahkan sarang makhluk berkaki delapan itu, kusapu dan kubasuh lantai kayu itu dengan zat penyuci “Zikr” hingga bisa kulihat bayanganku sendiri di lantai, dan terakhir kubuang gorden rusak yang sering membawa kegelapan ke dalam ruanganku itu.

‘Subhanallah’,ucapku takjub, Hart kini benar-benar bersih. ”Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas nikmat yang Kauberikan” Belum kering bibirku mengucapkan rasa syukur, tiba-tiba keajaiban terjadi , Hart menjadi sangat luas, dinding Hart berubah menjadi dinding kayu dan jendela-jendela oval berukuran besar berjajar sepanjang dinding kayu. Cahaya terang keemasan masuk melalui jendela-jendela itu , terang namun tidak menyilaukan. Kuambil air wudhu dan kudirikan shalat fardhu di ruangan itu, lalu kuteruskan dengan shalat sunah dan tilawah. Saat kututup Quran, barulah aku sadar bahwa keajaiban telah kembali terjadi, tiang-tiang kokoh telah menyangga Hart, dinding-dinding kayu itu penuh dengan kaligrafi kalimat tauhid, dan terdengar suara-suara merdu malaikat menyebut nama-nama Sang Khalik. Sejak saat itu hampir tiap saat kuhabiskan waktuku di dalam Hart untuk menikmati cahaya keemasan yang menyelinap dari jendela oval yang selalu menerangi ruangan tanpa perabot itu. Hart memang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Hart tampak sangat rapuh , Hart mungkin rusak dimakan rayap , tapi Hart adalah tempat yang nyaman dan kokoh bila dijaga tetap bersih dan dihiasi dengan kalimat-kalimat Sang Khalik.

Sampai suatu hari kumasuki Hart dengan membawa sebuah benda asing. Setangkai bunga tepatnya, bunga itu kelihatan sangat rapuh, lemah namun lembut dan sangat indah, kurasakan bunga itu sangat sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kutaruh bunga itu di dalam “vas sederhana” yang kubuat dengan mencongkel lantai kayu Hart. Tak pernah bosan rasanya kupandangi bunga berwarna biru keunguan itu. Setiap hari bunga itu semakin indah, ia mengakar dan menyatu dengan Hart.

Sudah tiga tahun bunga itu menyatu dengan Hart, keindahannya adalah alasan utamaku untuk mengunjungi Hart. Aku sudah lupa kapan terakhir kali Hart kubersihkan dengan “Zikr”. Cahaya keemasan yang selalu menerangi Hart pun sudah jarang kuperhatikan, sudah cukuplah keindahan bunga keunguan itu sebagai penghiburku. Sampai suatu hari kudapati bahwa bunga itu telah raib dari tempatnya, yang tersisa hanyalah lubang yang sangat dalam bekas akar dari bungaku. Saat itu kupasang kedua mataku menyelidiki Hart, dan baru kusadari bahwa tiang-tiang kokoh penyangga telah menghilang, kalimat-kalimat tauhid di dinding bagai tak pernah ada dan tak terdengar suara-suara merdu malaikat, dan entah kapan semua itu menghilang dari Hart. Di sudut mata masih terlihat cahaya keemasan menyelinap di sela-sela sarang laba-laba. Entah sejak kapan makhluk itu kembali menghuni ruangan ini. Sekali lagi kupandangi cahaya keemasan itu, Ya, cahaya itu selalu berusaha menerangi Hart tanpa peduli bagaimana keadaan Hart, namun aku masih belum terhibur dengan kehadiran cahaya itu. Kupejamkan mataku dan berharap bahwa semua ini tak pernah terjadi.

Hart kini hanya sebuah ruangan sempit yang kosong dengan bekas torehan di lantainya. Suatu hari kumasuki Hart, cahaya keemasan dari jendela tak lagi terlihat indah bagiku, dan tak sengaja kulihat bekas akar di lantai kayu, saat itu pula kurasakan kerinduan akan bunga yang rapuh itu. “Ah, cukup”,pikirku saat itu ”aku harus melanjutkan hidupku, aku akan mencari keindahan lain dan akan kubawa ke ruangan ini”

Kulangkahkan kakiku dari Hart dan mencoba mencari keindahan yang lain di luar
sana

, namun tak juga kudapati keindahan itu. Tak sengaja kulihat sebuah kotak musik yang mengeluarkan suara yang sangat syahdu, kuambil dan kubawa kotak musik itu, “Pasti kotak ini bisa memberikan hiburan untukku”pikirku dalam hati.

Kembali kumasuki Hart dengan membawa kotak musik, kucoba nikmati alunan simfoni yang berasal dari kotak itu, “Indah” pikirku, namun tak sengaja kembali kulihat bekas akar di lantai kayu, kembali kurasakan kerinduan akan bunga yang indah itu, dan alunan melodi itu menjadi tak terdengar indah lagi. Esoknya kumasuki Hart dengan membawa sebuah permata yang berkilauan, namun saat bekas akar itu kembali terlihat , permata itu tak lagi indah karena yang kuinginkan adalah sebuah bunga yang pernah menetap di ruangan ini selama tiga tahun. Terus dan terus kukumpulkan benda-benda pengalih perhatian di dalam Hart, sampai suatu saat kurasakan Hart begitu sempit dan sesak, sampai-sampai cahaya keemasan yang selalu berusaha menyelinap ke ruangan itu hampir tak terlihat. Dan saat itu kurasakan bahwa aku sudah lelah dengan semua ini.

Di sela-sela kelelahan, kuputuskan untuk meminta pertolongan-Nya,”Ya Allah,tolong aku” bisikku pelan. Tiba-tiba timbul dorongan yang sangat kuat dalam diriku,”aku harus mengakhiri semua ini” pikirku. Kuambil satu per satu barang-barang yang pernah kukumpulkan dan kubuang ke sebuah lubang hitam yang sangat dalam. ”Kelak kalian akan menjadi saksi atas hijrahku”,teriakku..Dan saat Hart telah kosong dan bersih , kembali kulihat bekas akar di lantai kayu itu. Kerinduan kembali menyelimuti. Kutegarkan diriku, kuambil air wudhu dan kudirikan shalat dan kulanjutkan dengan tilawah. Keajaiban kembali terjadi , sebuah tiang tumbuh di atas lantai kayu dan menutupi bekas akar itu, kemudian disusul dengan tiang-tiang lainnya, Kalimat-kalimat tauhid kembali tergores di dinding ruangan dan suara-suara malaikat kembali terdengar. Hart kembali menjadi seperti tiga tahun yang lampau bahkan lebih indah. Kuucapkan puji-pujian kepada Sang Khalik yang selalu memberiku rahmat-Nya. Sejak saat itu hampir tiap saat kuhabiskan waktuku di ruangan itu untuk menikmati cahaya keemasan yang menyelinap dari jendela oval yang selalu menerangi Hart.

Sampai suatu hari kumasuki ruanganku dengan membawa sebuah benda asing. Setangkai bunga tepatnya, bunga itu kelihatan sangat rapuh, lemah namun sangat indah dan kurasakan bunga itu sangat sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kutaruh bunga itu di dalam ‘vas sederhana’ yang kubuat dengan mencongkel lantai kayu ruangan itu. Tak pernah bosan rasanya kupandangi bunga berwarna biru keunguan itu. Setiap hari bunga itu semakin indah, ia mengakar dan menyatu dengan ruanganku itu….

Sayup-sayup terdengar lirih suara malaikat,”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kaudustakan…”, begitu getir dan lemah , lalu menghilang….

(ud 0015Bdg020503)

Advertisements

2 Responses to “Sebuah Ruangan, Suatu Masa,di Sebuah Tempat”

  1. Fumiki Deguchi Says:

    Tulisan yang inspiratif.
    Hanya satu kata, jazakumullah…

  2. ud Says:

    Aamiin.. jazakillah atas doanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: