Bukan Sekedar Sarang Laba-laba by:al-muhandis(from:myquran.org)

January 19, 2007

Pagi itu masih dingin, kota Medan yang masih sering diguyur oleh hujan membuat kantorku juga terasa dingin. Apalagi sisa-sisa hujan semalam masih terlihat dimana-mana, jalan yang basah, daun yang jatuh karena terkena terpaan dari hujan juga masih terlihat. Untung saja aku memakai jaket yang cukup nyaman, begitu pikirku. Segera saja aku masuk ke dalam ruangan kerjaku, kuhidupkan komputer, sembari kusampirkan jaket yang tadi kukenakan, dan ganti pakaian dengan baju lapangan.

Karena ruangan kantor masih sepi, aku segera stand by di depan komputer, untuk melihat berita dari internet, maklum tidak punya TV, membuatku harus sigap mencari berita di internet atau koran kantor yang gratisan. Sekalian kubuka email dan friendster sekaligus. Hmm ternyata ada satu pesan di friendster yang baru..oo dari Jono, temanku dari Universitas Jatinangor, kebetulan dulu pernah tingal dekatan waktu masih tinggal di Bandung. Sembari menunggu internet yang agak lambat membuka pesan tersebut, kucoba-coba ingat tentang kawanku yang satu ini, seingatku ikhwah ini sudah menikah, baru saja setahun yang lalu, dengan teman akhwatnya yang pernah menjadi sekretarisnya, malah ia dulu pentolan da’wah kampus yang terkena isu virus merah jambu, dan..astagfirullah, segera kuhapus suudhonku…teringat pesan, bahwa salah satu dari ukhuwah kita mampu selalu berhusnudhon..

“aslkm Totok, katanya kamu di medan ya ? aku juga nih, kebetulan dapet dinas penempatan di medan juga.ini nomorku 08123456789” Begitu pesannya di friendsterku. Senyumku mengembang, senang mendapat kabar dari teman lama. Kubuka kembali profil friendsternya, hmm…ada yang aneh…foto dari profilnya, ya..fotonya.biasanya dulu ia tidak pernah menampilkan foto istrinya, sekarang ada..walau memang foto mereka berdua. Kejanggalan itu terus berlanjut ketika kubuka foto mereka, tanpa sengaja aku melihat jilbab istrinya yang sudah agak ”pendek“, walau masih mengenakan gamis panjang, dalam bayanganku, biasanya penampilan berubah karena cara pandang yang berubah..atau bisa jadi jika jilbab rapi disebut idealisme ketika sudah mengikuti halaqah, maka berjilbab lebih pendek bisa jadi sebuah “kemunduran” dalam beridealisme,atau dalam bahasa mudahnya sudah tidak halaqah…astaghfirullah…jangan suudhon dong akh, begitu maki ku pada diriku sendiri.

###

”Ayo Tok kamu main“ teriak Andi.
”Pasangannku siapa ?“ sahutku.
”Sama aku aja, kita lawan Eko sama Bayu ?“ jawab Joko.
”Oke deh“. Biasanya memang hari libur seperti hari ahad pagi ini, kami isi dengan olahraga tenis. Maklum sama-sama merantau, jadi merasa senasib sepenanggungan. Apalagi aku yang jauh dari anak dan istri, harus punya banyak aktifitas. Dan memang kami sudah punya motto, ”Membunuh sepi atau terbunuh sepi“ begitu biasanya kami bergurau karena merasa jauh dari keluarga, salah satu cara kami membunuh sepi yaa dengan olahraga tenis ini yang rutin setiap sabtu dan ahad pagi.
Belum lama kami bermain tiba-tiba handphoneku berbunyi, oo dari Jono,
”Aslkm tok“
”Waalaikum salam, gimana kabarnya Jon? Maap lho aku belum sempat ke rumahmu“
”Baik alhamdulillah, nggak papa koq, lagi ngapain ?“
”Lagi tennis nih, kenapa?“
”Nanti siang abis dhuhur sibuk nggak ? aku sama istri mau ke tempatmu”
”Nggak lah, boleh..mangga atuh“ segera kuberikan alamatku padanya. Setelah puas ngobrol, ia menyudahi perbicangan dan kulanjutkan kembali pertandingan tenisku yang sempat terhenti.

###

“Susah nyarinya ?” tanyaku.
“Yah lumayanlah, abis jalannya banyak di blokir gara-gara banyak pernikahan” jawabnya. “Oya tok, ini istriku, Ari” sambil mengenalkan istrinya, karena memang ketika pernikahan mereka aku tidak sempat hadir, karena sudah berada di luar pulau.
“Totok” jawabku singkat sambil menutupkan kedua telapak tanganku sedikit menghindar. “Ayo masuk, afwan ya kecil kamarnya, maklum kembali bujangan” jawabku sekenanya.
“nggak papa koq, tapi enak nih, dingin, banyak angin” ujarnya. Tak lama kemudian kami bertiga sudah terlibat pembicaraan seru. Mulai dari kawan-kawan di Bandung yang belum lulus, hingga ke masalah kerjaan masing-masing. Tapi terus terang konstrasiku sedikit terganggu, aku terkadang sibuk dengan pikiranku sendiri. Awalnya agak kaget juga melihat Ari istrinya Jono ini, kemarin di friendster masih pake gamis walau jilbab pendek, tapi sekarang malah celana jeans panjang dan jilbab yang lebih pendek lagi. Sepanjang perbicangan itu aku mencoba membayangkan apa saja yang sudah mereka lalui, hingga sekarang bertemu agak berbeda. Masih jelas dalam ingatanku, ketika mereka belum menikah, dan aku sempat bertemu istrinya, dengan tampilan tertutup jilbab rapi dan ghaddul basharnya. Sekarang….
Dari perbicangan kami, aku mengetahui kalau mereka sudah tidak halaqah lagi…ternyata kegundahanku selama ini terjawab. Tapi aku tak mau terlihat oleh mereka terpengaruh dengan hal tersebut, kututupi dengan canda kecil kami.
”Ya udah tok, kami pulang dulu ya..insya allah nanti main lagi“
”Iya deh, hati-hati..tahu jalan pulangnyanya khan?“ jawabku
” Iya, makasih ya“ ujarnya sambil memakai helm
”Sama-sama…”, kemudian kami bersalaman, dan kuhantar sampai jalan besar.

###

Sepulangnya mereka hingga menjelang magrib sore ini, pikiranku masih dipenuhi pertemuan kami tadi siang. Terlalu banyak pertanyaan ku yang tidak bisa ku jawab oleh diriku sendiri.
Ada apa dengan mereka ?
Kenapa mereka berubah ?
Apakah benar karena pernikahan mereka diawali dengan pacaran ?
Padahal mereka khan dulunya aktifis ?
Dan mungkin sejuta pertanyaanya mirip seperti itu.
Tiba-tiba aku teringat pada halaqah ku minggu lalu, murobbi ku bercerita tentang salah satu kawannya yang futur. Ikhwan tersebut awalnya sudah lama mengaji, dan menikah dengan memiliki 2 orang anak yang sudah cukup besar. Tapi kemudian ikhwan tersebut tertarik dengan wanita yang belum berjilbab, dan kemudian menikah dengan wanita tersebut. Istri dan anaknya ditinggalkan begitu saja. Bahkan istrinya ikutan futur, ketika rumahnya disambangi oleh teman ngaji suaminya karena mencari suaminya yang sudah lama tidak mengaji, muncul seorang wanita dalam rumah tersebut tidak mengenakan jilbab, ketika ia tahu bahwa tamunya ialah teman pengajian suaminya, wanita tersebut masuk kembali ke dalam kamar, lalu muncul kembali dengan jilbab…astagfirullah..ternyata wanita tersebut istrinya, yang dulunya juga akhwat dengan jilbab yang rapi.

Dan murobbi ku menutup ceritanya dengan singkat
”Sudah cukup banyak cerita seorang aktifis da’wah yang futur, mulai dari yang ringan hingga yang paling berat, mungkin hari ini kita mendengarkan cerita tersebut dan hanya bisa mengelus dada, tapi yang lebih penting, kita semua harus terus berdoa dan mendekatkan diri pada Allah, agar kita nantinya tidak menjadi bagian dari cerita tersebut“. Amin..
Kita tahu bahwa istiqomah tidak semudah yang diucapkan. Tapi lebih diuji pada saat pengejawantahannya. Ketika dulunya seorang aktifis sudah berkomitmen, maka ia harus menjadi pemenang, dengan mempertahankan komitmennya tersebut. Dan tidak sedikit yang futur dalam tarbiyah karena diawali dengan proses pernikahannya yang tidak islami, baik itu caranya maupun prosesnya itu sendiri. Setidaknya benar apa yang diucapkan murobbiku, ”Salah satu ujian kestiqohan dalam da’wah adalah menikah, antum bisa melihat keikhlasan mereka juga dari proses pernikahan mereka, sudah banyak aktifis da’wah yang tangguh di lapangan demonstrasi, atau tangguh ketika segudang amanah menumpuk pada pundaknya, tapi dari sekian banyak tersebut aktifis yang tangguh tersebut, hanya sedikit yang teruji komitmennya terhadap da’wah ketika dikorelasikan dengan pernikahannya. Ia mengganggap, bahwa pernikahan adalah masalah pribadi, maka ia berhak untuk mencari sendiri, hatta pilihan itu teman sekatifitasnya yang sudah diawali dengan hubungan mesra tanpa status. Padahal, pernikahan ialah proses membangun peradaban, dan termasuk dalam tahapan da’wah yang lebih luas menjadikan cahaya Islam tegak diatas segala-galanya. Karena ketika proses pernikahan kita syuro kan kedalam halaqah tarbiyah kita, setidaknya kita punya gambaran obyektif terhadap pernikahan kita nanti. Karena terlalu egois seorang ikhwan yang ingin menikah dengan akhwat pilihan hatinya sendiri saja, tanpa mempertimbangkan prospek da’wah yang lebih besar. Hal ini bukan pada masalah berarti seorang ikhwan tidak boleh memilih sendiri, namun pada masalah syuro dalam halaqah yang seharusnya lebih diutamakan. Karena terkadang ia sudah takut dahulu dengan syuro tersebut, padahal kalau antum tahu, syuro tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun pada antum, selalu ingin kebaikan untuk antum sebagai aktifis da’wah, dan memberikan yang terbaik untuk antum, tapi kita lebih sering berpandangan sinis terlebih dahulu, tapi antum tetap harus optimis, dari sekian jumlah ikhwah yang futur, tapi masih lebih banyak lagi yang tetap istiqomah, karena mereka saling mengingatkan dan menguatkan“. Cerita dari murobbiku itu terus terang menenangkan hatiku. Memang, penting untuk bersabar dalam jamaah dan da’wah. Melebihi simulasi ketika kita dulu rihlah dengan jalan jauh. Lebih jauh dari itu, dan lebih sulit dari itu.

Dan sekali lagi aku bersyukur, ketika malam setelah temanku Jono singgah ke tempatku, istri dan anakku menelpon
”Assalamualaikum abi, ni dedek opang mau ngomong“ kata istriku membuka.
”Abi..abi..accalamualaikum, cicak…, kakak…, aceh…“ anakku terus mengoceh dengan ceritanya. Aku terharu sekaligus bersyukur, dalam usia pernikahan tahun ketiga ini kami terus berusaha berada dalam suasana tarbiyah. Karenanya mungkin berkah itu yang membuat aku dan istriku tetap istiqomah dalam da’wah. Untuk terus membangun keluarga kami yang islami, agar keluarga kami juga menjadi keluarga yang menjadi bagian dari peradaban Islam yang lebih besar.
Pokoknya malam itu aku betul-betul mendapat pelajaran yang berharga sehari. Ku coba lagi mengingat tentang kenangan da’wah ini, yang telah memberikan padaku sebuah ladang amal untuk ikut berkecimpung didalamnya, bahkan karena da’wah ini pula aku menikah, karenanya aku tak ingin mati di luar da’wah. Tak ingin menjadi seperti seekor laba-laba yang mengurai benang menjadi sarangnya, yang sepertinya kokoh menghadapi lawan, namun ternyata dengan mudah hancur karena terpaan angin. Ku putar lagi video ketika masih di da’wah kampus. Teringat aku akan nyanyian kami waktu itu

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa untuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan hilang di telan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi kehidupan

Allah Ghayatuna
Arrosul qudwatuna
Al quran dusturuna
Al jihad sabiluna
Al mautu fi sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

Amin, semoga kami tetap bisa tegar dalam da’wah hingga 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, hingga mati..agar suatu hari nanti kita bisa berkumpul lagi di jannahNya kelak, kita bisa bercerita tentang kenangan sulitnya dan haru birunya da’wah kita saat ini..amin ya robbal alamin..

taken from

http://myquran.org/forum/index.php/topic,13647.new.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: