Zuhud

April 24, 2007

Oleh: Tim dakwatuna.com

Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim.

Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk

meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu

kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya,

zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang

mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan

dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi

dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.

 

Apalagi seorang dai. Jika orang banyak mengatakan dia “sama saja”,

tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati

orang-orang yang didakwahinya. Dakwahnya layu sebelum berkembang.

Karena itu, setiap mukmin, terutama para dai, harus menjadikan zuhud

sebagai perhiasan jati dirinya. Rasulullah saw. bersabda,”Zuhudlah

terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu.

Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia

pun akan mencintaimu” (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

 

 

Makna dan Hakikat Zuhud

Makna dan hakikat zuhud banyak diungkap Al-Qur’an, hadits,

dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah

permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah

antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak,

seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian

tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian

menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan

dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah

kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan)

ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi,

yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan

Rasul-rasul- Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa

yang dikehendaki- Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada

dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)

sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah

mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan

berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu

jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong

lagi membanggakan diri.”

Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan

tentang makna dan hakikat zuhud. Ayat ini menerangkan tentang

hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang kekal.

Kemudian menganjurkan orang-orang beriman untuk berlomba

meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat.

Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa

manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman

harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak

mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan

tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga

hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi

Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang

mengarahkan manusia untuk bersikap zuhud.

 

Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud

tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia

-yang bersifat sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya

ketika manusia mencintanya- dan hakikat akhirat -yang bersifat kekal,

baik kenikmatannya maupun penderitaannya.

Demikian juga ketika Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya

pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya

orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia.

Rasulullah bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing

atau musafir.”(HR Bukhari).

 

Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para sahabat

dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang

paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah,

paling gigih dalam berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak

mengambil hasil dari semua jerih payahnya di dunia berupa harta dan

kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana dan

bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat

dan keridhaan Allah swt.

 

Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang

lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata,

“Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan

untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Untuk apa dunia itu!

Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak

di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya. ” (HR At-Tirmidzi)

Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i,

zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas

keperluan. Abu Idris Al-Khaulani berkata, “Zuhud terhadap dunia

bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta.

Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang

ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Dan jika kita

ditimpa musibah, maka kita sangat berharap untuk mendapatkan pahala.

Bahkan ketika musibah itu masih bersama kita, kita pun berharap bisa

menambah dan menyimpan pahalanya.” Ibnu Khafif berkata, “Zuhud

adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.” Ibnu Taimiyah berkata,

“Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti,

sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya

di akhirat nanti.”

 

Keutamaan Zuhud terhadap Dunia

Zuhud merupakan sifat mulia orang beriman karena tidak tertipu

oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta, wanita, maupun tahta.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi, orang beriman beramal

shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan

manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan

kenikmatan yang halal di dunia. Pada saat yang sama, hati mereka tidak

tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan

akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman

beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan

kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya

di akhirat.

 

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits yang menerangkan

keutamaan zuhud terhadap dunia:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa

yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari

jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali

yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang

lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa

(kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir

di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya.

Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah;

dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba- Nya. (Ali Imran: 14-15).

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia

adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi

subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan

itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa

atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia

tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya

di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 45-46)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan,

kalau mereka mengetahui. (Al-Ankabut: 64).

 

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang

aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya

dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian.

Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba,

dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

 

Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa didatangkan orang

yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat,

dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya,

“Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan?

Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)?” Maka dia menjawab,

“Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.” Kemudian didatangkan orang

yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali

celupan di surga. Kemudian ditanya, “Wahai Anak Adam, apakah engkau

pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan

(di dunia)?” Maka ia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku,

tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun.”

(HR Muslim)

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat

seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa

yang tersisa.” (HR Muslim)

 

Tanda-tanda Zuhud

Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda zuhud, yaitu:

Pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih

karena hal yang hilang.

Kedua, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya,

baik terkait dengan harta maupun kedudukan.

Ketiga, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya

lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas

dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya

tidak dapat bersatu.

 

Jadi, tanda zuhud adalah tidak adanya perbedaan antara

kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan

celaan karena adanya dominasi kedekatan kepada Allah.

Yahya bin Yazid berkata, “Tanda zuhud ada dermawan dengan

apa yang ada.” Imam Ahmad bin Hambal dan Sufyan r.a. berkata,

“Tanda zuhud adalah pendeknya angan-angan. “

Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya:

Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.

Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil

semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya.

Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan

menolong orang-orang beriman. Mereka adalah tokoh pemimpin

dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu

oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat

dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata,

“Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, “Dimana

orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?”

Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar,

dan Umar, seraya balik bertanya,

“Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”

Abu Sulaiman berkata, “Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf

adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang

ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka

mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”

Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan

bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan

segala cara untuk meraihnya. Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia,

mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.

Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan,

dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral.

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin

yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan,

dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta,

karena kebutuhannya sudah tercukupi.

 

Tingkatan Zuhud

Zuhud orang-orang beriman memiliki tingkatan. Zuhud terhadap yang haram,

zuhud terhadap yang makruh, zuhud terhadap yang syubhat, dan zuhud terhadap

segala urusan dunia yang tidak ada manfaatnya untuk kebaikan hidup di akhirat.

Zuhud terhadap yang haram hukumnya wajib. Orang-orang beriman

harus zuhud atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah.

Bahkan sifat-sifat orang beriman, bukan hanya meninggalkan yang

diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.

Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan

kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.

Allah swt. berfirman,

 

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)

yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 3).

Rasulullah saw. bersabda, “Diantara tanda kebaikan Islam seseorang

adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)

Imam Ahmad mengatakan, “Zuhud ada tiga bentuk.

Pertama, meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya

orang awwam. Kedua, meninggalkan berlebihan terhadap yang halal,

ini adalah zuhudnya golong yang khusus. Ketiga, meninggalkan

segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah,

dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”

Hal yang berkaitan dengan zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak

berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud

terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah),

kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu

selain Allah. Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan

terhadapnya. Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang yang

paling zuhud di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita,

dan kedudukan.

 

Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga

punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang

dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib,

semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah

orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq,

Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah,

Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah,

Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling zuhud.

Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan

21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita.

Setiap orang beriman harus senantiasa meningkatkan kualitas zuhudnya.

Itulah yang akan memberinya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat

serta meraih ridha Allah swt. Orang-orang yang berkerja keras mencari

nafkah dengan cara yang halal. Ketika berhasil meraih banyak harta

kemudian menunaikan kewajiban atas harta tersebut, seperti zakat, infak,

dan lainnya. Dengan berlaku seperti itu, dia termasuk orang zuhud.

Orang-orang yang beriman yang memiliki istri lebih dari satu untuk

membersihkan dirinya (iffah) adalah termasuk orang yang zuhud.

Sedangkan orang kafir, karakteristiknya adalah rakus terhadap kehidupan

dunia dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bagi mereka

tidak ada istilah halal dan haram. Mereka tidak mengenal perbedaan

antara nikah dengan zina, antara hadiah dengan suap, antara bisnis

dengan riba, antara makanan halal dengan yang haram. Bahkan pada

hal yang dianggap tabu saja orang-orang kafir berupaya menghalakan

semuanya. Perzinaan mereka menghalalkan dengan dalil hak asasi manusia.

Berawal dari kebebasan hak untuk membuka aurat dalam berbusana.

Permisif dalam pergaulan dengan membolehkan berduaan di tempat sepi.

Berciuman di tempat umum dijadikan hal lumrah. Sehingga, perilaku

perzinaan menjadi berita yang selalu dipertontonkan di teve dan

dikabarkan di tabliod. Dari mulai perzinaan lelaki dengan perempuan

yang belum menikah, perzinaan lelaki dan perempuan yang sudah

menikah, sampai perzinaan sejenis: lelaki dengan lelaki, perempuan

dengan perempuan. Dari perzinaan inces sampai perzinaan yang dilakukan

bukan pada tempatnya. Begitulah kehidupan orang kafir.

Mereka seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi. Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan

mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka

adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Fudhail bin ‘Iyyadh berkata, “Allah menjadikan segenap keburukan

dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah cinta dunia.

Dan Allah menjadikan segenap kebaikan dalam sebuah rumah,

dan menjadikan kuncinya adalah zuhud dari dunia.”

Tragisnya, kepemimpinan dunia saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir.

Sehingga, kerusakannya sangat dahsyat. Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan.

Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup

sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral.

Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk

meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas

budaya materialisme itu. Pola hidupnya mirip dengan orang kafir sehingga

terjadilah kerusakan yang sangat dahsyat. Realitas seperti inilah yang

dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya dimana

umat Islam terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati) dan

berpola hidup materialisme hampir sama dengan orang kafir.

Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling

berbahaya. Segala bentuk kejahatan bermuara dari kerakusan

terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya,

Rasulullah saw. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta,

“Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi

bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan

kedudukan.” (HR At-Tirmidzi)

Upaya penyadaran kembali umat Islam tentang hakikat dunia

dan akhirat sangat penting. Bahwa keimanan terhadap hari akhir

adalah prinsip yang harus terus menerus diingat dan ditanamkan

kepada umat Islam sehingga motivasi dan tujuan hidup mereka

sesuai dengan nilai-nilai Islam. Semakin kuat keimanan seseorang

kepada hari akhir, akan semakin baik dan semakin zuhud. Sebaliknya,

semakin lemah keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin

jahat dan semakin rakus.

Dalam sebuah riwayat disebutkan dua orang zuhud bertemu,

Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Syaqiq bertanya

kepada Ibrahim, “Apa yang Anda ketahui tentang dunia?” Ibrahim

balik bertanya, “Kalau menurut Anda, bagaimana?” Syaqiq menjawab,

“Jika kami tidak mendapatkanya, maka kami harus bersabar. Dan jika

mendapatkannya, maka kami harus bersyukur.” Ibrahim bin Adham

berkata, “Kalau seperti itu, maka anjing Balakh (sebuah kota di Afghanistan)

pun melakukannya. ” Syaqiq bertanya, “Lalu, bagaimana menurut

pendapat anda?” Ibrahim menjawab, “Jika tidak mendapatkan dunia,

kami bersyukur. Dan jika mendapatnya, kami itsaar (mengutamakannya

untuk orang lain).” Demikianlah bahwa zuhud memang memiliki tingkatan.

 

Kesalahpahaman terhadap Zuhud

Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud. Banyak yang mengira

kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia,

dan mengharamkan yang halal. Tidak demikian, karena meninggalkan

harta adalah sangat mudah, apalagi jika mengharapkan pujian dan

popularitas dari orang lain. Zuhud yang demikian sangat dipengaruhi

oleh pikiran sufi yang berkembang di dunia Islam. Kerja mereka cuma

minta-minta mengharap sedekah dari orang lain, dengan mengatakan

bahwa dirinya ahli ibadah atau keturunan Rasulullah saw. Padahal Islam

mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai

dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia.

Segala yang halal itu jelas dan segala yang haram itu jelas, di antara

keduanya ada yang syubhat yang harus kita jauhi dan tinggalkan.

Semoga Allah menjadi kita bagian orang yang zuhud dan diberi kita

pemimpin zuhud yang membimbing kita dalam memakmurkan dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: