110203

September 7, 2007

Sayap – Sayap Lembayung Merah

Lembayung merah mengembangkan sayap-sayapnya saat aku dan sang kekasih melangkahkan kaki ke tempatku tinggal. Kami bersenda gurau sampai malam menyelimuti langit dan menampakkan kecantikan sang purnama. Hidupku adalah kesempurnaan hingga kematian iri padaku karena akulah sang juara. Dan kuantarkan kekasihku ke tempat tinggalnya dengan kecupan perpisahan.

Ia adalah hal terindah yang terjadi dalam hidupku setelah ayahku meninggal dunia dan ibuku yang bahkan meninggalkanku saat usiaku menjelang tiga tahun. Sejak aku mengenalnya, duniaku berubah, telah ia pancarkan mata air cinta ke dalam jiwa yang kering ini

Kekasihku adalah ruh dalam lantunan puisi-puisiku

Ia telah mengubah pencinta menjadi pujangga

Hidupku adalah kanvas kosong

Kekasihku adalah kuas yang dengan cintanya mewarnai hidupku

Ia telah mengubah pencinta menjadi maestro

Dan saat kegelapan menjemputku

Kekasihku adalah sebatang lilin yang menerangiku

Hanya aku…

Hanya untukku…

***


Bunga itu telah mekar dan menjadi bunga yang indah

Ia tahu bahwa hidupnya bukan lagi diperuntukkan bagi seekor ulat yang pernah menjadi bagian hidupnya

Lebih dari itu , ia tahu hidupnya adalah sebagai simbol keagungan Sang Pencipta

Dan ulat berusaha menjadi kupu – kupu agar bisa menghisap madunya

Namun seekor ulat takkan pernah menjadi kupu-kupu

Tidak tanpa seizin Sang Penguasa

***

Tiga tahun berlalu, lembayung merah masih mengembangkan sayap-sayapnya saat aku dan sang kekasih melangkahkan kaki ke tempatku tinggal. Namun sang kekasih bukanlah kekasih yang dulu , ia telah menjadi Eisyah, gadis berjilbab yang telah menemukan dirinya. Kali ini kami tidak bersenda gurau , bahkan tak sepatah kata pun terlontar dari ujung lidah kami , sampai saat malam menghujamkan keheningannya dan awan hitam menutupi purnama bagai cadar menutupi wajah sang kekasih.

“ Jadi, inilah akhirnya …, setelah apa yang telah kita alami semudah itukah kau meninggalkanku?”tanyaku lemah.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungil itu, aku tak tahu mengapa ia melakukan semua ini.

“Aku mencintaimu, demi kau aku rela melakukan apapun jika aku bisa…”tambahku.

“Kau tak tahu arti cinta sesungguhnya, kau masih belum mengerti… “ucapnya pelan sambil menundukkan wajahnya ke bawah.

Wajah cantik itu tertutupi oleh muramnya kegelisahan , dari sudut cakrawala setetes embun membasahi wajah yang halus. Hatiku hancur melebur dalam dinginnya kesunyian, sukmaku melayang hilang di langit kehampaan. Dan kuantarkan kekasihku ke tempat tinggalnya dengan kebisuan sang kekasih .

***

Wahai kekasih

Kau pernah mengisi hari-hari terindahku

Sebuah perjalanan yang kukira takkan pernah berakhir

Tinggallah aku menggenggam bayangmu

Yang telah lama kau tinggalkan

Kau adalah wujud kesempurnaan bagiku

Haruskah kaupalingkan wajahmu saat aku memandangmu?

Andai kau telah membunuh rasa cintamu

Setidaknya biarkanlah aku tetap mencintaimu

Haruskah kaupalingkan wajahmu…

Dan tinggalkan kegetiran di hatiku ?

***

Waktu adalah makhluk dahsyat yang mampu mengubah segalanya , lambat laun sang kekasih telah mencapai pencarian dirinya dan meninggalkan sang pencinta di sudut jalan. Namun sang pencinta takkan rela melepas sang kekasih , ia berusaha mengejar walaupun tahu bahwa pencarian dirinya sendiri telah ia abaikan.

***

Sang surya telah memancarkan kembali panji-panji kekuasaannya, perlahan-lahan sinarnya mengusir kegelapan dan rembulan kembali ke pembaringannya. Aku adalah sang pencinta yang akan mendapatkan sang kekasih. Ya, demi cinta aku telah mendekatkan diri pada Sang Penguasa, tentulah ini yang ia inginkan. Seorang Eisyah yang sangat takut pada Sang Khalik tentulah akan mencari imam dari kalangan orang yang dekat dengan-Nya. Setiap hari aku berdoa agar suatu saat ia mau menjadi ma’mum-ku

dan agar aku cukup baik baginya.

***

Sang pencinta yang selama ini mengaku telah mencintai ternyata sama sekali tidak mengerti cinta , hanya kebeningan hati sang kekasihlah yang mampu mengerti cinta yang hakiki yaitu cinta pada Sang Khalik, dan sang pencinta telah menjadi sang pemabuk yang telah tertipu oleh cinta itu sendiri

***

Sungguh, aku telah berusaha mendekati-Nya , jiwaku pun mulai tersadarkan dari tidur panjangnya , perlahan –lahan aku mulai mengerti apa yang ia utarakan, tapi mengapa kegelisahan selalu datang ketika ia merasuki pikiranku. Aku tahu cinta yang hakiki adalah cinta pada Sang khalik semata , tapi aku pun tak dapat membohongi diriku bahwa aku mencintainya . Dan mengapa aku masih belum merasakan kenikmatan saat aku mencoba mencintai-Nya. Saat aku mencintai seseorang maka aku akan berusaha memenuhi keinginan sang kekasih, maka jika aku mencintai Sang Khalik tentulah aku akan menuruti seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apakah aku mencintai-Mu Ya Allah? Sungguh semua ini membuatku lelah, apakah untuk mencintai-Mu aku harus melepaskan cintaku padanya? Andai aku bisa Ya Aziz, karena aku tak pernah meminta pada-Mu untuk mencintainya dan mengapa tak Kauizinkan diriku hanya mencintai-Mu?

***

Aku mencintaimu…

Aku mencintaimu?

Bagaimana mungkin aku mencintaimu jika cinta kepadamu adalah fatamorgana

Aku mencintai-Mu…

Aku mencintai-Mu?

Cinta pada-Mu lah yang hakiki…

tapi mengapa aku tak dapat merasakannya…

***

Malam kembali menampakkan kemisteriusannya, kegelisahan seorang pencinta bagai senandung yang mengiringi kabut ilusi makhluk bernama cinta dan sang pencinta

akhirnya terlelap dalam pembaringannya

***

Cinta mulai melancarkan tipu dayanya dan sang pencinta larut dalam tipuannya yang bernama kecemburuan, sungguh hanya cinta pada Sang Khaliklah yang tak pernah menipu

***

Geraman suara Tiger mengiringi perjalananku ke tempat tinggalnya. Nun jauh di sana mentari juga memancarkan kegeramannya padaku, ia didihkan keringat yang masih menempel di pori-poriku. Aku tak peduli walaupun angin kering itu memecah serpihan kulitku, aku,sang pencinta akan menemui makhluk Allah yang akan selalu menjadi kekasihku.

Di teras istana sang putri, sudut bola mataku menangkap sosok yang ingin kutemui namun di hadapannya ada sosok lain yang tak kukenal memasangkan mata liarnya ke arah kekasihku , mereka terlena oleh senda gurau yang tak pernah kudapati semenjak ia memutuskan tali cinta yang pernah mengikat. Makhluk liar berjanggut itu pergi dengan menggoreskan senyum di pipi sang putri. Aku bagai dihantam oleh benda yang sangat besar dan keras, rasa sesak memenuhi rongga dadaku , darah di dalam seluruh pembuluhku mendidih , kurasakan seluruh tubuhku memanas dan rongga mataku hampir memuntahkan isinya.

Kuhampiri makhluk berparas manis itu, tapi aku hanya merasakan kepahitan saat memandangnya. Ia tampak terkejut atas kehadiranku, namun kembali ia menyunggingkan senyumnya padaku, tapi tak sedikit pun aku ingin membalasnya. Kutanyakan makhluk apakah yang kulihat bersamanya sesaat lalu. Ketenangan terpancar saat sang putri menjawab bahwa makhluk itu adalah temannya. Entah mengapa aku tak mampu memercayai ucapannya , hubungan mereka terlalu akrab untuk seorang teman. Tangan sang putri menggenggam sepucuk surat berwarna kuning muda. Seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan tanganku , dalam sekejap surat itu sudah ada di genggamanku. Sang putri tersihir sesaat ,tapi kemudian ia kembali sadar. Kularikan surat yang sudah kubuka sampulnya saat sang putri mencoba mengejarku. Sampai saat terdengar suara decitan mesin dan tumbukan keras , beberapa kaki di belakang kedua daun telingaku.

***

Angin berhenti mengalir saat kesunyian menerpa bumi

Awan hitam memandang pedih saat menafikan keperkasaan sang surya

Selembar kertas terlepas dari tangan penuh nafsu

Sang pencinta menggengam erat lengan sang kekasih

Tak sepatah kata terucap dari tubuh yang terbujur kaku

Wajah angkuh tertunduk saat menatap kekasih yang bermandikan darah

***

Tidaaaa….k, tidaaak, semua ini tidak nyata, apa yang telah kulakukan, kularikan tubuhku dari tubuh lemah sang putri. Aku berlari…, berlari…

***

Tubuh gegap rubuh tak berdaya

Lolongan kesedihan tercecer dari mulut busuk kehampaan

Air mata penyesalan dibuang percuma dari sisa-sisa jiwa

Tak ada lagi keangkuhan

Tak lagi ada yang tersisa

dari jiwa yang telah mati

***

“Wahai umat manusia, akulah sang pencinta…”

“Dulu aku pernah memiliki kekasih yang kecantikannya akan membuat hati kalian hancur berkeping-keping…”

“Kalian tahu di mana ia sekarang ? Ia telah kuantarkan pada kekasih sejatinya…”

“Kalian dengar ? Aku adalah orang yang paling baik di seluruh alam semesta…”

“Ha.. Ha..Ha……… Ha.. Ha..Ha……… Ha.. Ha..Ha…….”

“Wahai bapak yang pemurah di sana , bisakah kaubagi aku sedikit makanan yang

kaugenggam?”

“Hei, mengapa kau lari dariku…kemarilah bajingan, berikan makananmu…”

“Hei..hentikan …Argh…ampun…apa ..yang kalian lakukan ..Argh…jangan kalian ambil dompetku, isinya hanyalah kenanganku dengan kekasihku… Argh..

ampun …agh…agh…ampun….aaaaaaargh………..”

***

Tubuh gegap rubuh tak berdaya

Keangkuhan telah digantikan kehinaan

Jiwa yang telah mati melolong di sudut bumi tak bertuan

Makhluk-makhluk langit enggan memandang onggokkan daging yang dulu mengaku sebagai sang pencinta

Simbol kenistaan terlena dalam keindahan bunga tidur

***

“Wah, tempat ini memang indah sekali …

Langit biru cerah dengan sedikit awan putih…

Rumput-rumput membentang bagai permadani hijau yang ditumbuhi mekarnya bunga tulip kekuningan di keceriaan musim semi…

Air terjun bagaikan butiran-butiran kristal terpancar dari sisi tebing…

Di bawahnya mengalir sungai-sungai kecil yang airnya sangat bening…”

“Tunggu, siapa itu …bukankah …kau …Eisyah!!!”

“Tapi bukankah kau telah…jangan…jangan mendekat…”

“Mengapa langit berubah menjadi hitam?

Dan mengapa rumput ini berubah menjadi bara yang menyala?

Dan tebing itu memuntahkan lahar panas…”

“Sekali lagi jangan mendekat, ampuni aku…”

“Waktu itu aku tak bermaksud…Tolong…,Tidaaaak…”

Aaaaaaaargh, ternyata aku hanya bermimpi…dan tubuhku, agh..sakit sekali , di

mana dompetku,sepatuku juga…makhluk tak beradab itu pasti telah mengambilnya dariku, bedebah…,tapi mana kekasihku? Maafkan aku …?Kembalilah padaku…Huu…

“Wahai Tuhan di mana Engkau!!!”

“Telah kau ambil semuanya dariku”

“Kau telah ambil cintanya dariku”

“Lalu kau ambil dia dariku”

“Aku tak pernah membunuhnya”

“Kau lah yang membunuhnya”

“Bukankah semua ini takkan terjadi jika tanpa izin-Mu?”

“Setelah Kau sakiti hatiku “

“Kini Kau siksa ragaku?”

“Mengapa Kaulakukan semua ini Tuhan?”

***

Langit tak bergeming saat makhluk melata menghujat Tuhannya

Semilir angin dingin mengiris luka yang telah bernanah

Cinta menuangkan racunnya ke dalam mulut penuh dahaga

Sang pencinta larut dalam pengasingannya

***

“Wahai orang-orang yang katanya beriman…”

“Yang tidak beriman tidak hai, he..he…he….”

“Akulah sang pencinta…”

“Dulu aku pernah memiliki kekasih yang kecantikannya akan membuat hati kalian hancur menjadi abu…”

“Jika kalian bertemu dengannya sampaikanlah maafku padanya…”

“Itu jika kalian telah mati…Ha..ha..ha…Ha..ha..ha….”

“Cinta adalah kebahagiaan saat aku menemui sang kekasih..”

“Jiwaku sakit saat sang kekasih meninggalkanku”

“Pertemuan kedua dengan sang kekasih adalah obat dari sakit kerinduanku”

“Sukmaku sekarat saat sang kekasih kembali meninggalkanku”

“Cinta adalah candu…”

“Dan orang-orang yang kukenal adalah pecandu..”

“Wahai kekasih belahan jiwa.”

“Telah kau ambil sebahagian jiwaku saat kau pergi..”

“Cintaku akan selalu menyertaimu di alam sana”

“Mengapa tak kurasakan cintamu di alam ini?”

“Atau telah tertutup hatimu dari bisikan hasratku..”

“Tapi itu tak mengapa…”

“Cukuplah cintaku padamu sebagai maafku padamu”

“Jika kau puas melihat penderitaanku..,aku pun senang atas namamu”

“Maafkanlah aku, kekasih hatiku…”

“Auuu…mengapa kalian melempariku?”

“Apa ??? kalian sebut aku tak waras?”

“Kalianlah yang tak waras!!!”

“Dasar makhluk tak beradab , hentikan…,ampun..auuu…”

***

Kegelapan masih sudi menyelimuti bumi

Sang pencinta telah menyempurnakan pemujaannya

Telah ia jadikan cinta sebagai tuhannya

Dan sang kekasih sebagai rasulnya

Sang pencinta semakin tertipu oleh cinta

Dan dunia yang ia ciptakan

***

Kekasihku adalah keabadian dalam jiwaku…

Ia tak pernah mati bagiku

Dan sampai saat ini

Masih kutemui kekasihku dalam mimpi-mimpiku…

Aku tahu … kau selalu nyata untukku

***

“Aku adalah sang pencinta”

“Kubelai dan kurengkuh kekasih yang terbungkus keletihan”

“Kulayani ia bak seorang budak menghamba tuannya “

“Kekasihkulah sebab dari kehidupanku “

“Bukankah kita adalah satu …”

“Aku bukanlah diriku tanpamu”

“Hah…,Eisyah kaukah itu…,Eisyaaaah …”

“Kau tahu aku merindukanmu, kali ini aku takkan melepaskan pelukanku…”

“Aaaaaaaa,Tolooong…,orang gila….”

“A,apa ,hei kau bukan Eisyah…”

“Tu,tunggu , tolong kalian jangan pukuli aku…,aku kira dia..,argh..auu…egh..Arrgh…..”

***

Malam terbangun dari tidurnya…

Cakarnya mengoyak tubuh tak berdaya

Tubuh penuh darah erat didekap bumi

Jiwanya sirna menghapus luka

Hilang semua penderitaan

Manusia baru telah dilahirkan

Senandung pilu masih dinyanyikan

***

Akh…kepalaku rasanya seperti baru tertindih benda yang sangat berat ,sakit sekali , kubuka mataku yang juga terasa sakit di ujungnya,dan di hadapanku kini adalah seorang gadis yang cantik,dari warna rambutnya dan wajahnya terlihat bahwa ia bukanlah orang pribumi asli, ia tersenyum padaku…

“Ah , akhirnya bangun juga ,kamu pasti lapar ya?”tanyanya.

Ia mengambil sebuah sepiring nasi beserta lauknya yang sudah disiapkan di sisi ranjang

Ia memasukkan makanan ke mulutku , namun aku merasa mual lalu kumuntahkan kembali makanan itu.Dari wajahnya terlihat seberkas kekecewaan dan ia berkata,”Oh,kamu belum lapar,Ya?”

“Mengapa kamu mengikat tanganku?”teriakku.

“A..Aku ,bukan aku yang mengikatmu,dokter-dokterku lah yang melakukannya…”,tambahnya,”Aku pun tak setuju dengan mereka,tapi kata mereka mungkin jiwamu masih terguncang sejak kecelakaan itu…”

“Kecelakaan apa,siapa kamu?dan lepaskan tanganku!”teriakku .

Ia memandangku ragu,tapi lalu ia melepaskan ikatanku

“Apakah kau tak ingat aku, dan apa kau melupakan kejadian enam bulan yang lalu saat kau berusaha menolongku di tepi tebing Jayagiri…Saat itu kau berusaha meraih tanganku namun tebing itu cukup licin sehingga kau lah yang terjatuh…Aku masih bisa bertahan hingga tim SAR menyelamatkanku namun engkau… ,mereka tak dapat menemukanmu,mereka bilang kau telah tiada tapi aku tak pernah memercayainya dan ternyata keyakinanku benar karena aku telah menemukanmu saat aku dalam perjalanan ke rumah ini seminggu yang lalu ,saat itu kondisimu sangat parah sehingga kau terpaksa diinfus.”

“Apa maksudmu , siapa kau ?”tanyaku bingung.

“Tidakkah kau mengingatku?,Aku adalah tunanganmu, lihatlah ini…”.Ia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya,terlihat di gambar itu dia dan seorang pria.

“Bolehkah aku meminta cermin ?”kataku.

Ia mengambil cermin di dalam laci sebelah ranjangku dan menyodorkannya padaku.

Kulihat wajahku di cermin, lalu aku melihat wajah pria di foto itu, wajahnya memang mirip denganku tapi kurasa itu hanyalah kebetulan karena aku tidak pernah pergi dengan gadis ini ke Jayagiri dan aku pun tak pernah mengenalnya . Aku adalah… Aku adalah…

Aku …,Aku tak bisa mengigat diriku sendiri ,Aku tak bisa mengigat apapun…Aku …

“Kau sudah ingat sekarang ?Foto itu diambil sehari sebelum kecelakaan itu terjadi…”ucap gadis itu.

“Aku tidak ingat kecelakaan itu, aku tidak ingat kau ,bahkan aku tidak tahu siapa aku…”jawabku.

Kening gadis itu berkerut sebentar, wajahnya terlihat khawatir lalu ia berkata,”Jadi kau sama sekali lupa tentang kita…,memang waktu kutemukan kepalamu terluka,tapi tak kusangka sampai membuatmu amnesia,”ucapnya,”tapi yang penting kamu sudah aku temukan aku akan selalu mendampingimu dan membuatmu mengingat semuanya.”

“Boleh kutahu siapa namaku dan siapakah namamu?”tanyaku.

Wajahnya tersenyum,”Kamu adalah tunanganku Ryan dan aku adalah kekasihmu Anna.”

“Di manakah keluargaku?”tanyaku lagi.

Kali ini wajahnya tidak tersenyum,”Entahlah,selama ini kau selalu menghindar bila aku ingin bertemu mereka,kau pernah bilang bahwa ayahmu adalah seorang pemabuk dan ibumu selalu tak pernah ada di rumah, jadi kau tak ingin aku menemui mereka,kau pun tak pernah memberi tahu di mana mereka tinggal.

Ah ,sudahlah jangan bicarakan itu lagi, sekarang kamu lapar kan?Ayo makan…”ucapnya riang.

Hari ini aku menjadi manusia baru, atau entahlah…gadis itu bercerita panjang lebar tentang keadaan kami sebelum kecelakaan itu, tapi aku tak bisa mengigat sama sekali semua yang ia katakan…Aku benar-benar bingung…

***

Setitik cahaya mulai tampak dari ujung lorong yang gelap

Dunia baru mulai menampakkan wujudnya

Secercah harapan muncul dari jiwa yang telah dibersihkan

Akankah selamanya atau semua ini hanyalah fatamorgana

***

Sebulan lamanya aku berada di rumah besar itu, rumah itu hanya ditinggali oleh tiga orang ,Anna dan kedua abangnya Kevin dan George. Mereka tidak terlalu akrab denganku dan tampaknya mereka tidak terlalu menyukaiku, tapi Anna selalu baik padaku, baginya aku adalah segalanya, ia selalu memperhatikanku, dan selalu ingin bersamaku .

“Ryan, seminggu lagi adalah hari jadi kita,aku ingin hari ini kita ke gereja dan berdoa kepada Tuhan, agar kau diberi keselamatan dan dipulihkan ingatannya…”ujarnya.

“Ge..gereja?”tanyaku

“Sudahlah, kau memang jarang ke gereja selama ini , tapi menurutlah kali ini, karena kau membutuhkan pertologan-Nya”jawabnya.

Aku tak tahu harus menjawab apa, kurasa aku sama sekali tak pernah ke gereja, namun aku tak mampu menolak keinginan gadis yang sekarang sedang menatapku penuh harap,akhirnya kuanggukkan kepalaku. Wajahnya riang seketika, disambutnya lenganku ke arah mobil dan setengah jam kemudian kami sudah berada di halaman sebuah gereja yang megah.

Kaki kami melangkah memasuki gereja, nampaknya upacara sudah dimulai. Begitu memasuki pintu utama, Anna mencelupkan tangannya ke sebuah wastafel batu yang berisi air, kemudian menyentuhkan tangannya ke kepala,dada, dan kedua bahunya.Gereja itu sangat luas,deretan kursi memanjang di kanan kiri jalan utamanya.Lurus ke depan agak jauh terdapat sebuah altar, menjorok ke belakangnya lagi, ada sebuah patung salib besar serta lukisan kaca tentang perjamuan terakhir. Di kanan dan kiri altar terdapat ruangan yang menjorok juga tempat para penyanyi koor. Bentuk bangunannya seperti bentuk salib yang direbahkan dengan altar di pusat perpotongan. Atapnya yang tinggi terbuat dari kayu bagaikan bahtera terbalik Dinding gereja itu dipenuhi lukisan-lukisan Yesus yang sedang membawa salib sampai ia dimakamkan. Sebuah sentuhan di bahu menyadarkanku dari lamunan. Gadis itu mengajakku berlutut sambil menghadapkan tubuh kami ke arah lukisan dan pastor itu memimpin upacara sambil mengelilingi gereja seakan-akan bercerita tentang peristiwa di gambar itu. Di belakangnya terlihat dua putra altar mengayun-ayunkan dupa .Sesudah upacara itu selesai, Anna mengantarku menemui pastor, pastor itu berkata,

”Bertobatlah anakku, dan kasih Yesus akan selalu menyertaimu,Atas nama Bapa,Putera dan…”

Kupandang wajah pastor itu dan entah mengapa aku merasa tempatku bukan di sini, hatiku berontak, aku bangkit berlari keluar dari gereja.

***

“Mengapa kau melakukan itu?” tanyanya. Lalu ia pergi ke arah mobil,”Kau ikut pulang tidak?”tanyanya ketus. Aku terdiam kulangkahkan kakiku ke arah mobil , belum pernah kulihat ia marah sebelum kejadian ini.

“Aku minta maaf,”kataku.

Dia tidak membalas perkataanku, nampaknya ia marah sekali padaku karena telah membuatnya malu. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk kamar tanpa memedulikanku.

***

Kegamangan menyelimuti hati yang mendamba kedamaian

Mungkinkah hati yang rapuh telah tersakiti

Adakah jalan untuk mengobati perih yang terasa

***

Malam itu aku bermaksud meminta maaf sekali lagi dan tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara Kevin dan George.

“Kau tahu tadi siang orang itu telah membuat keributan di gereja …”ucap George.

“Kita memang seharusnya tidak menuruti keinginan Anna waktu itu, wajahnya memang mirip sekali dengan Ryan, tapi Ryan sudah mati lima bulan yang lalu”ujar Kevin

“Ya, tapi mungkin Anna akan sembuh dengan kehadirannya, selama ini Anna stress berat dan sejak ia menemukan pria itu di sisi jalan , ia mulai kelihatan seperti adik kita yang dulu, lagipula Anna tidak pernah mau mengakui Ryan telah mati dan orang itu pun tak tahu siapa dirinya…”Kevin menimpali.

“Apa maksud kalian? Aku bukan Ryan dan Ryan telah mati lima bulan yang lalu,”teriakku.

Mereka tersentak, dan Anna keluar kamar dengan wajah yang tak percaya.

Tak sepatah kata keluar dari bibir mereka , Aku berlari dari rumah itu ,sepintas kulihat Anna mengejarku dan menangis, tapi kedua saudaranya menahannya.

“Ryan, kumohon jangan tinggalkan aku…, aku akan mati kalau kau pergi…”

Kularikan kakiku dari istana megah ketiga bersaudara itu. Sayup-sayup suara tangisannya mulai menghilang. Maafkan aku Anna,maafkan,tapi aku bukan orang itu,siapa aku? Siapa aku?

***

Aku adalah bukan siapa pun…

Tak ada yang mengerti mengapa aku di sini

Aku adalah makhluk tak bernama

Angin pun enggan menyapaku…

Harus ke manakah kulangkahkan kaki ini…

***

Lembayung merah tetap mengembangkan sayap-sayapnya

Makhluk tak bernama berjalan gontai di jalan penuh kotoran

Hatinya resah tak berarah

Jiwanya kosong berteman kehampaan

Sampai suara-suara itu memanggil

***

Suara itu, ya, suara itu yang menggetarkan jiwa ini, suara yang sangat kukenal, suara itu berasal dari sebuah masjid yang berwarna hijau muda. Dan kuikuti kaki yang membimbingku ke rumah Allah. Di sinilah aku sekarang , di atas rumput hijau yang tak jauh dari pintu masjid itu. Seorang pemuda berbaju koko bergerak dari arah masjid menghampiriku, wajahnya tenang penuh kedamaian, seulas senyum terpancar dari wajahnya,

”Assalamu’alaikum” sapanya lembut.

“Eh…,Wa alaikumussalam”jawabku

“Mas ngga ikut shalat ?”tanyanya

“Hmm..Saya lupa shalat itu kaya gimana caranya…”kurasakan wajahku memanas saat menjawab pertanyaannya.

Sesaat keningnya berkerut, namun kembali ketenangan memancar dari wajahnya.

“Ya sudah, malam ini juga akan saya ajari kamu shalat, tapi ngomong-ngomong nama kamu siapa ?”

“Eeh…,itu juga saya lupa,Bang..Kalo Abang namanya siapa?”tanyaku.

“Nama saya Taufan, tapi kamu bisa panggil saya Opan ..,gimana kalo kita ngobrolnya di dalam masjid saja…,tapi saya manggil kamu apa ya..?”

Dalam sekejap kami sudah berada di dalam masjid, masjid itu berlantaikan kayu, di atas mimbar ada semacam balok berbentuk ka’bah dan dinding di dekat mimbar dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai dinding sebuah gua…dan yang paling kurasakan dari masjid ini adalah kesejukan angin yang mengalir dari pintu yang terbuka lebar dan kehangatan dari lantai kayu yang kududuki…dan akhirnya kuceritakan semua yang kuingat pada pemuda yang memancarkan ketenangan itu.

***

Waktu yang menghadirkan luka

Waktu pulalah yang mengobati luka

Seorang pria tak bernama telah menemukan yang dicarinya

Ketenangan, ya .., ketenangan…

Kini ia adalah cermin bagi pancaran ketenangan Ilahi

***

Setahun telah berlalu sejak aku menemukan pencerahan di masjid ini, saat ini malam tampak begitu ceria menampakkan bintang – bintang yang bermain-main dengan sinarnya, dan tampaknya purnama pun ikut bergembira dengan memancarkan cincinnya yang menyemarakkan pesta penghuni langit nun jauh di sana . Kini aku bekerja menjadi pengurus masjid ini dan aku tinggal di asrama. Bang Opan kini menjadi ketua pengurus masjid ini , yah rejekinya pun meningkat dari yang kutahu saat kami pertama berjumpa.

“Eh, kamu mau kan nemenin saya besok sore…”

“Memangnya ada apa ,Bang…”ucapku ringan.

“Insya Allah saya besok mau menemui calon istri saya, ada sesuatu yang perlu dibicarakan…mengenai tanggal pernikahannya”jawabnya malu-malu.

“Wah, koq ngga bilang –bilang sudah punya calon, gimana ceritanya Bang?” tanyaku kaget sekaligus senang.

Bang Opan akhirnya menceritakan pertemuannya dengan calon istrinya, rupanya mereka bertemu saat sama-sama menjadi panitia Mabit tiga bulan yang lalu, calon istrinya adalah seorang aktivis di masjid itu. Rupanya Allah telah menyiapkan pasangan dari orang-orang yang kualitas imannya tak jauh berbeda, meskipun mereka tak pernah berniat untuk mencari pasangan dalam acara itu , tapi Allah kemudian mempertemukan mereka dan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka, cinta karena Allah…Aku kapan ya bisa gitu…, Astaghfirullah…aku seharusnya tak memikirkan hal itu dulu karena cintaku kepada Allah belumlah kuat…tapi…

“Bang ada yang ingin saya tanyakan…”

“Nanya apaan…”

“Kalau suatu saat saya merasakan cinta kepada seorang makhluk Allah, apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus melupakannya atau…tapi bukankah itu sudah menjadi fitrah manusia…”

“Kamu benar ,cinta adalah fitrah manusia…namun kamu juga perlu ingat bahwa kita hidup untuk mencari keridhoan-Nya, tak halal hubungan antara seorang muslim dan muslimah kecuali mereka sudah menikah…, seandainya kamu merasakan perasaan itu dan kamu sudah siap maka menikahlah, tapi jika kamu belum siap, lupakanlah ia dan berpuasalah…”

“Tapi bagaimana jika ia adalah orang terbaik menurutku, kalau aku melupakannya mungkin aku takkan mendapatkannya.”

“Seandainya ia adalah jodohmu maka kamu tak perlu khawatir, dan jika kamu meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, maka Allah akan menggantinya dengan hal yang lebih baik…”

Ucapannya sedikit menenangkanku tapi kurasa sampai saat ini belum ada seorang pun yang menggetarkan hatiku.

***

Sang surya memancarkan sinarnya yang sejuk dari sebelah barat saat kami berada di halaman rumah sang kekasih( bukan kekasihku :( ).Tapi aneh , nampaknya aku tidak merasa asing di tempat ini.

“Assalamu’alaikum” ucapku berbarengan dengan Bang Opan.

“Wa alaikumussalam “ terdengar jawaban dari dalam, “Oh, Mas Opan sama temennya, silakan masuk dulu , tunggu sebentar ya, mbaknya lagi di atas”ucap gadis itu saat membuka pintu.

Seorang gadis berkerudung ungu kebiruan turun dengan anggun menuruni tangga, tangannya memegang vas berisi tiga tangkai bunga mawar. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena ia selalu menundukkan wajahnya, sesaat kemudian ia menengok malu-malu memperlihatkan wajahnya ke arah kami dan…

“Prang….”vas bunga itu terjatuh ke lantai dan gadis itu menatapku dengan wajah pucat. Entah mengapa dadaku berdegup kencang saat mata kami berpapasan. Tiba-tiba kilatan-kilatan kejadian merasuki isi kepalaku.

”Ei,Eisyah…?,kamu Eisyah kan?”dan kurasakan kepalaku terasa sangat ringan hingga seakan-akan aku melayang dan bayangan hitam menutupi kelopak mataku.

***

Kubuka mataku dengan susah payah , lambat laun bayangan buram itu tampak jelas,rupanya semuanya sedang mengelilingiku .

“Kamu benar Eisyah kan ?” tanyaku . Kepala gadis itu mengangguk pelan dan wajahnya kembali tertunduk lemah.

“Bukankah waktu itu kamu..”

“Tidak,kamu salah..,”potongnya, “saat itu aku memang terluka cukup parah tapi rupanya Allah belum menghendaki aku menemui-Nya.”

“A..,Aku mohon kau mau memaafkan aku, aku memang bersalah , andai aku bisa mengambil rasa sakit yang kaurasakan dan memasangkannya padaku, maka aku akan senang sekali..”

“Sudahlah…, aku sudah memaafkanmu sejak dulu, dan rupanya doaku terkabul karena kini pasti kau telah mengerti alasanku meninggalkanmu dulu”

Aku tak sanggup menahan perasaanku, setetes air membasahi pipiku,”Selamat Ya, sebentar lagi kamu akan menikah…”Aku bangkit dari tempat dudukku, “Kalau boleh aku mau pulang duluan, selamat ya Bang, Abang memang pantas mendapatkan Eisyah…”

Wajahnya seakan hendak menahanku pergi namun tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya.

“Assalamu’alaikum”ucapku

“Wa alaikumussalam” terdengar jawaban dari belakang punggungku.

***

Aku tak tahu apa yang kini kurasakan, segalanya terasa begitu cepat….Aku sekarang ingat segalanya , mungkin inilah cara Allah menunjukkan kebenaran pada hambanya yang durhaka ini,Ya, rupanya Allah masih mau menolongku kembali ke jalan-Nya. Dan Eisyah, entahlah perasaanku padanya, tapi yang jelas aku senang ia mendapatkan calon suami yang sangat terpelihara akhlaknya…,jauh lebih baik daripada aku…Ah, sudahlah aku tak boleh memikirkan hal ini…tidak…tidak boleh…, aku yakin bila saatnya tiba aku akan menemukan pasangan yang juga akan menambah imanku pada Allah, dan kalau Allah menghendaki bukan tidak mungkin saat ini juga…

“Bruk..”

“Aduh…”terdengar suara dari sosok yang bertabrakan denganku.

“Maaf saya tak sengaja…”kuambil buku berjudul “Panduan Hidup Muslim” itu dari jalan, lalu buku itu dan buku-buku lain yang juga berserakan kuserahkan pada gadis berkerudung coklat yang sedang memandangku.

“Ini bukunya, maaf ya…”kusunggingkan senyumku sesaat,” Subhanallah…, Eh..Astaghfirullah… Aduh… maaf ya… ” Kutundukkan kembali wajahku yang kurasakan mulai memanas sampai ke kuping-kupingnya. Kupercepat langkahku melewati gadis itu dan…

“Tunggu…”suara itu terdengar jelas memanggilku.

Kupalingkan wajahku dan kali ini terlihat jelas wajahnya yang menatapku pucat, sesaat syaraf retinaku mengirimkan impuls-impulsnya ke otakku dan ada kecocokan antara objek dengan bagian dari memoriku.

“A…,Anna!!!”

***

Lembayung merah akan selalu mengembangkan sayap-sayapnya

Seorang pencinta masih berjalan dalam pencariannya

Melangkah ringan tanpa beban

Mengalir tanpa paksaan

Akan sebuah pemahaman

Cinta kepada Allah

Dan cinta karena Allah

***

ud

Bandung 144-110203

Advertisements

4 Responses to “110203”

  1. lutfiasyairi Says:

    yud kumaha kbarna??? blog ente di link ya ku sy.

  2. ud Says:

    kabar baik, alhamdulillah…., mangga di-add

  3. teeka Says:

    Fuiiih..panjang ceritanya :D
    ga nyangka ternyata yudhi bikin cerpen gini

  4. ud Says:

    cerpenna dibikin tgl.110203
    rada2 mirip kaayaan ayeuna :)
    pas bagian … (u know lah…)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: