Prolog

September 27, 2008

Bocah itu masih berlutut di tepian pantai sambil menyendokkan ember ke dalam pasir kemudian menangkupkannya di atas tumpukan pasir lainnya yang telah ia susun semenjak tengah hari tadi. Sesekali ia merapikan tumpukan pasir yang ia susun dengan kedua tangannya. Jari –jarinya menggoreskan garis-garis vertikal dan diagonal di dinding pasir. Kadang jarinya membentuk bulatan oval dan persegi juga di dinding pasir itu. “Aku ingin melukis dinding istana pasir ini sesuai dengan apa yang aku pikir aku ingin lukis pada saat pertama kali jariku menyentuh dinding pasir karena ini adalah istanaku dan aku tak perlu bantuan orang lain untuk menentukan apa yang lazim aku lukis karena aku tidak berkewajiban untuk menghibur mereka” pikir bocah itu.

Langit mulai memerah ketika ia baru saja merampungkan istananya. Ia bisa melihat mentari jingga menyembul di belakang menara istana pasirnya. Perlahan matahari itu menjadi terhalang oleh istana pasir yang baru saja ia selesaikan. Di hadapannya kini berdiri sebuah  istana kehitaman dengan cahaya kemerahan mengelilinginya.
”Benar-benar pemandangan yang aku inginkan” pikirnya.

Tak terasa kini buih-buih ombak mulai menyapa jari jemari kakinya. Semakin lama semakin deras ombak yang yang menerpa kakinya dan kini air laut telah  membasahi lututnya. Bisa ia rasakan tubuhnya terdorong saat gelombang air menyelusup di antara kedua lututnya, kemudian tubuhnya tersedot menuju lautan bersamaan dengan menyurutnya ombak bersama pasir-pasir yang ia injak. Semakin lama posisi tubuhnya makin dekat dengan istana pasir yang ia buat, dan kakinya semakin tertanam ke dalam hamparan pasir senja itu. Langit kemerahan perlahan mulai berubah menjadi langit yang ramai akan warna. Kini cahaya ungu, abu, biru, merah dan jingga mulai bercampur dengan gumpalan awan yang berwarna putih.
“Pemandangan yang menakjubkan” pikirnya.

Namun dalam beberapa menit semua warna itu melebur dan tergantikan dengan sebuah warna, hitam. Di hadapannya, istana pasir yang telah ia bangun semenjak tengah hari tadi, beberapa menaranya telah terkikis sebagian tersapu ombak. Dan semakin lama ombak kian mengganas dan mulai menumbangkan beberapa dinding utamanya, menghapus semua lukisan yang telah ia ukir sendiri dengan jari jemarinya.
Saat ombak mencapai pinggangnya, ia sadar ia harus melangkah menjauhi pantai bila ia tidak ingin terbawa arus dan menjadi bagian dari lautan yang luas.

Setengah berlari ia gerakkan kakinya menuju tempat yang lebih kering. Ia alihkan pandangan ke arah lautan saat ia mencapai daerah yang ia pikir aman dari terjangan ombak. Pandangannya menyelidik mencari istana pasirnya. Satu demi satu terjangan ombak mulai menyapu istana pasirnya hingga apa yang ada di hadapannya kini adalah lautan luas dengan langit kehitaman. Pemandangan lautan yang sama seperti yang ia lihat di hari-hari yang lain di saat yang sama.Hamparan lautan dengan langit hitam, tanpa istana pasir.

Tidak ada kekecewaan yang ia rasakan saat melihat bahwa istana pasir yang ia bangun selama setengah hari, kini telah hilang dari pandangan tanpa meninggalkan jejak-jejak keberadaannya. Dalam pikirannya, ia tahu bahwa di atas pantai yang ia pandangi saat ini, pernah berdiri sebuah istana pasir yang ia bangun sendiri dengan kedua tangannya. Ia masih bisa merasakan saat butiran pasir menyelusup di antara jari jemarinya. Ia masih bisa merasakan saat kuku-kukunya menoreh dinding istana pasir dan membangunnya menjadi sebuah lukisan. Ia masih bisa merasakan kebebasan saat ia menangkupkan embernya menjadi sebuah menara istana pasirnya. Ia masih bisa merasakan kebebasan saat ia melukis tiap detil dinding istananya tanpa harus peduli apa yang orang lain pikirkan. Ia juga masih bisa merasakan keindahan istananya saat mentari merah perlahan menghilang di balik istananya. Ia sadar sepenuhnya bahwa meski kini di hadapannya tidak lagi berdiri istana pasir, pantai ini bukanlah pantai yang sama seperti saat ia menyapanya tadi siang. Di dalam kehidupan pantai ini, pernah hadir sebuah istana yang ia bentuk dengan segenap curahan hatinya. Ia juga sadar bahwa kini ia bukan orang yang sama seperti saat ia mendatangi pantai ini.
270908 11:50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: