…kebahagiaan…

November 4, 2008

Artikel ini saya temukan ketika saya sedang membuka arsip2 lama saya dalam komputer secara tidak sengaja (atau 4JJl membimbing saya untuk membuka artikel ini karena yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah “Dari manakah harus saya mulai kembali…”)
Saya tidak tahu siapa pembuatnya, semoga 4JJl merahmatinya dengan iman dan keistiqomahan… Artikelnya menyentuh … , meski tidak semuanya saya sepakat terutama pada bagian berbicara dengan malaikat yang siap mengabulkan 3 permintaan ( saya pikir cerita fiksi tentang Tuhan dan malaikat agak2 berbahaya terhadap akidah…, wallahu’alam). Eniwey, semoga 4JJl memberi kita hati yang penuh syukur.. Amin Yaa Rabbal’alamin….

Seekor Ikan Mencari Samudra

Seorang lelaki yang merasa hidupnya tak bahagia mengadu
minta kebahagiaan pada Tuhan. Sang Pencipta kemudian
mengutus malaikat untuk menemuinya.
Ketika datang, malaikat berkata, “Doamu dikabulkan.
Silakan minta tiga hal yang akan membuatmu bahagia.”

Lelaki itu amat bergembira. Ia merasa salah satu yang
membuatnya tak bahagia adalah istrinya yang amat cerewet.
“Hai orang tua, dapatkah engkau mencabut nyawa istriku,”
ujarnya. Permintaannya terkabul. Keesokan harinya istrinya
meninggal dunia.

Maka, hari itu para tetangga, kerabat dan handai tolan
berkumpul di rumahnya. Mereka amat sedih kehilangan
orang yang amat baik ini. Mereka pun saling menceritakan
kenangan manis tentang si istri. “Orang baik seperti
dia memang cepat dipanggil Tuhan,” kata mereka.
Mendengar perkataan itu, lelaki ini menjadi panik.
Ia sadar telah salah mengambil keputusan. Secepat kilat
ia berlari menjumpai si malaikat. “Hai orang tua, hidupkan
kembali istriku. Ia ternyata orang yang baik,” ujarnya.

Kembalinya sang istri tak juga membuatnya bahagia.
Ia merasa telah menyia-nyiakan dua kesempatan yang
diberikan Tuhan. Sekarang ia tinggal memiliki satu
kesempatan, karena itu ia tak boleh bertindak gegabah.
Ia pun bertanya kepada teman-temannya, mengenai apa
yang dapat membuatnya bahagia. Sebagian temannya menjawab:
uang. Sebagian lagi mengatakan: istri muda yang cantik.
Ada juga yang mengatakan jabatan dan kekuasaan.
Ini membuatnya terombang-ambing dalam kebingungan.

Sampai beberapa tahun kemudian, lelaki ini masih belum
memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya. Suatu hari
si malaikat datang menemuinya. “Aku masih memiliki utang
kepadamu. Silakan kau minta satu permintaan lagi,” katanya.
“Aku bingung wahai orang tua, tolong berikan petunjuk
kepadaku,” ujar si lelaki. “Baiklah,” kata malaikat
dengan lembut. “Agar engkau senantiasa merasa bahagia,
mintalah kepada Tuhan hati yang penuh syukur
.”

Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya tidak sulit.
Kebahagiaan sebenarnya bersumber di dalam diri kita,
bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita
cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati
dan paradigma kita sendiri.

Ada lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia.
Pertama, adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia
tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai.
Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan
yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa
akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah
lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran
Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat
membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena
lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang
tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda
miliki sekarang.

Kedua, Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila
Anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar
Anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga,
dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik.
Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat
sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti Anda harus
menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain.
Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana.
Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar
Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat
mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda
sendiri, paradigma Anda.

Ketiga, keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua
keinginan Anda terpenuhi. Padahal, keinginan itulah
yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah
dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling
hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat.
Itu tak sama dengan kebahagiaan.

Keempat, Anda tak bahagia karena cenderung membanding-
bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saya pernah
bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya
karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh
penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu, setiap
ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat
mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan
kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti
karier dan pindah ke bidang lain. Sampai suatu saat
ia menyadari bahwa tak ada gunanya “mengejar” sahabat
karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai
dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia
dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi
penghasilan sahabatnya.

Kelima, Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan.
Anda terlalu terobsesi pepatah “bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian”. Kapan Anda bahagia? “Nanti,
kalau sudah jadi manajer,” kata Anda. Persoalannya,
saat menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda
tambah sempit.
“Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur
atau dirjen, gubernur, menteri, presiden.” Nah, daftar
tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun, Anda
tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah,
“bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan.”
Kebahagiaan telah Anda letakkan di tempat yang jauh.
Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat
dan dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!

Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman
dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada
ikan yang lebih senior. “Anda lebih berpengalaman dari
saya. Di manakah saya dapat menemukan samudra kebahagiaan?
Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!”

“Samudra adalah tempat engkau berenang sekarang,” ujar
ikan senior. “Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah
samudra,” sangkal ikan yang muda.
Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di
tempat lain.

Hal itu juga dapat terjadi pada Anda.

Padahal, kebahagiaan itu tak perlu Anda cari.
Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati
apapun yang sedang Anda lakukan.

Dengan demikian, Anda akan menemukan kebahagiaan itu
sekarang. Saat ini juga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: