obsessive compulsive disorder

March 10, 2009

Berawal dari kebiasaan saya membetulkan kabel pegangan telpon di meja kerja teman saya bila saya sedang mengobrol dekat mejanya. Entah, tapi rasanya kurang nyaman melihat kabelnya terpilin,  jadi saya biasanya mengangkat gagang telpon, mengambil pangkal kabel telpon dan menjulurkan gagang telpon ke bawah yang otomatis berputar karena kabel yang terpilin, kemudian menaruhnya kembali bila kabelnya sudah tidak terpilin.

Rupanya teman saya menyadari hal itu, dan ia suka dengan sengaja memilin kabel telpon dahulu jika melihat saya mendatangi mejanya. Dan saya selalu membetulkan kabel telpon yang terpilin itu. Akhirnya teman saya berkata bahwa mungkin saya memiliki gejala obsesif kompulsif.

Obsesif kompulsif, apakah itu?

Setelah googling sebentar, saya menemukan tentang obsessive compulsive disorder atau disingkat OCD.

Setelah baca2 dari situs http://bayuaslilow.multiply.com

Berikut keterangannya

Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan

Diantara gejala2nya adalah:

OBSESI

KOMPULSI

Perhatian terhadap kebersihan (kotoran, kuman, kontaminasi)

Ritual mandi, mencuci dan membersihkan yang berlebihan

Perhatian terhadap ketepatan

Ritual mengatur posisi berulang – ulang

Perhatian terhadap peralatan rumah tangga (piring, sendok)

Memeriksa berulang – ulang dan membuat inventaris peralatan

Perhatian terhadap sekresi tubuh (ludah, feces, urine)

Ritual menghindari kontak dengan sekret tubuh, menghindari sentuhan

Obsesi religius

Ritual keagamaan yang berlebihan (berdoa sepanjang hari)

Obsesi seksual (nafsu terlarang atau tindakan seksual yang agresif)

Ritual berhubungan seksual yang kaku

Obsesi terhadap kesehatan (sesuatu yang buruk akan terjadi dan menimbulkan kematian)

Rituall berulang (pemeriksaan tanda vital berulang, diet yang terbatas, mencari informasi tentang kesehatan dan kematian

Obsesi ketakutan (menyakiti diri sendiri atau orang lain)

Pemeriksaan pintu, kompor, gembok dan rem darurat berulang – ulang

Pemikiran mengganggu tentang suara, kata – kata atau musik

Menghitung, berbicara, menulis, memainkan alat musik dengan suatu ritual yang beragam

Di antara contoh di atas, setidaknya ada 2 hal yang mungkin “kena” dengan saya, yaitu: Perhatian terhadap ketepatan dan Obsesi ketakutan (menyakiti diri sendiri atau orang lain) . Tapi kemudian di makalah itu dijelaskan bahwa:

Gejala – gejala obsesif harus mencakup hal – hal berikut :
–         Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
–         Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
–         Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas).
–         Gagasan , bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Nah kalo dari dari definisi yang ini, ada 1 yang tidak cocok dengan kondisi saya, yaitu:  Gagasan , bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Hmm, jadi kesimpulannya… harusnya saya tidak termasuk yang terkena OCD  karena tidak semua syarat obsesif kompulsif terpenuhi :)  (APA!!! 3 dari 4 syarat terpenuhi ???), trus apa bedanya OCD dengan perfeksionis ya? Nah yang itu masih lom tahu…

Hmm… jadi kepikiran dialog Neng dan AA selanjutnya:

AA  : “Neng.. Neng terang Dapid Bekam? eta gening nu pemaen bola ti  Inggris tea…”
Neng: “Terang A, kunaon kitu?”
AA  : “Tah .. Dapid Bekam teh gagaduhan sajenis payawat kajiwaan, basa walanda-na mah obsesip kompulsip disorder.
Manehna osok ngalakonan hiji pagawean terus-terusan, tapi teu bosen-bosen.
Manehna lamun latihan tendangan bebas teh terus weh teu eureun-eureun, tapi gara2 eta manehna jadi jago pisan tendangan bebasna.”
Neng: “ih.. si AA meni pinteran basa  walanda-na… , tapi naon hubunganna Neng sareng Dapid Bekam A?”
AA  : “Aya Neng.. sabab AA ternyata diponis dokter gagaduhan panyawat obsesip kompulsip disorder..”
Neng: “Ih.. A.. Neng mah meni sararieun, emang AA gaduh kabiasaan nu kumaha?”
AA  : “AA teh gaduh panyawat upami tos ningal Neng sakali, sok teu tiasa leupas titingalian teh…
Teu bosen-bosen hoyong terus-terusan ningal raray Neng….”

hmmm... nampaknya saya “kena” juga OCD sejenis ini , but it’s pleasantly repetitive :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: