Once in a lifetime…

Duperman, Splitterman and Bratman gathered at the dark alley beside the street,

surrounded by dim street ligth and heavy fog…

After have some cigarette, Duperman try to start a conversation

Duperman :”Hey Bratty…, we know each other for a long time…

we agreed to meet here, with no one seen us..

why do u still have to wear your mask… it’s kinda bug me you know…”

Bratman :”do you think your appearance can be called well..

why do you have to wear that silly tight dress now…”

Duperman :”I have some reason… this dress… make me fell different..

make me feel being super..

There’s some sensation when people consider you as a good person, although you know yourself not that good…

you know.. the truth is..

i’m only a man with a silly red sheet…

i’m only a man looking for a dream…

even heroes have a right a dream…

and it’ not easy to be me…”

Bratman :(what the hell he think of…,

he really need a psychiatrist, he really sing it…)

Duperman :”Hey Bruce… at least you can open your cap…”

Read the rest of this entry »

Prolog

September 27, 2008

Bocah itu masih berlutut di tepian pantai sambil menyendokkan ember ke dalam pasir kemudian menangkupkannya di atas tumpukan pasir lainnya yang telah ia susun semenjak tengah hari tadi. Sesekali ia merapikan tumpukan pasir yang ia susun dengan kedua tangannya. Jari –jarinya menggoreskan garis-garis vertikal dan diagonal di dinding pasir. Kadang jarinya membentuk bulatan oval dan persegi juga di dinding pasir itu. “Aku ingin melukis dinding istana pasir ini sesuai dengan apa yang aku pikir aku ingin lukis pada saat pertama kali jariku menyentuh dinding pasir karena ini adalah istanaku dan aku tak perlu bantuan orang lain untuk menentukan apa yang lazim aku lukis karena aku tidak berkewajiban untuk menghibur mereka” pikir bocah itu.

Langit mulai memerah ketika ia baru saja merampungkan istananya. Ia bisa melihat mentari jingga menyembul di belakang menara istana pasirnya. Perlahan matahari itu menjadi terhalang oleh istana pasir yang baru saja ia selesaikan. Di hadapannya kini berdiri sebuah  istana kehitaman dengan cahaya kemerahan mengelilinginya.
”Benar-benar pemandangan yang aku inginkan” pikirnya.

Read the rest of this entry »

kau, aku dan masa…

September 24, 2008

Satu persatu kubuka lembaran tentang kisahmu, dulu dirimu begitu sederhana, tampak polos dan memeriahkan. Kuresapi bait perbait metamofosamu.. kau tidak lagi menceritakan hal-hal yang itu saja…

Dulu kau begitu ceria, kemudian perlahan waktu telah menuntunmu untuk menceritakan tentang dilemamu… bagaimana kau bercerita tentang kebenaran, jati dirimu bahkan tentang diriku yang harus meninggalkanmu..

Ah.. kuyakin kau tak bermaksud begitu… hanya saja aku yang terlanjur meninggalkanmu..  begitulah aku dan pemahamanku saat itu… dan semua itu adalah proses dari pematanganmu dan pematanganku…

Maaf bila aku tak sanggup mencerna jati dirimu, menghayati maknamu.. hanya sebatas teori dan bukan hakikatmu..

Lama aku mengucilkanmu.., mengurungmu di ruangan gelap dan terdalam di hatiku…  memperlakukanmu seakan kau adalah makhluk asing bagiku…

Read the rest of this entry »

110203

September 7, 2007

Sayap – Sayap Lembayung Merah

Lembayung merah mengembangkan sayap-sayapnya saat aku dan sang kekasih melangkahkan kaki ke tempatku tinggal. Kami bersenda gurau sampai malam menyelimuti langit dan menampakkan kecantikan sang purnama. Hidupku adalah kesempurnaan hingga kematian iri padaku karena akulah sang juara. Dan kuantarkan kekasihku ke tempat tinggalnya dengan kecupan perpisahan.

Ia adalah hal terindah yang terjadi dalam hidupku setelah ayahku meninggal dunia dan ibuku yang bahkan meninggalkanku saat usiaku menjelang tiga tahun. Sejak aku mengenalnya, duniaku berubah, telah ia pancarkan mata air cinta ke dalam jiwa yang kering ini

Kekasihku adalah ruh dalam lantunan puisi-puisiku

Ia telah mengubah pencinta menjadi pujangga

Hidupku adalah kanvas kosong

Kekasihku adalah kuas yang dengan cintanya mewarnai hidupku

Ia telah mengubah pencinta menjadi maestro

Dan saat kegelapan menjemputku

Kekasihku adalah sebatang lilin yang menerangiku

Hanya aku…

Hanya untukku…

***

Read the rest of this entry »

Kulihat kau dari jarak yang hanya beberapa kaki saja. Goresan kegelisahan dapat kutangkap dari sorot matamu. Kualihkan pandanganku dan bersandar pada bingkai jendela yang berada tak jauh di sebelah kiriku. Sekedar ingin memanjakan mata dengan cahaya surya yang terasa begitu terang. Entah mengapa matahari terasa begitu dekat sekali dan sejajar dengan tubuhku . Dan dapat kulihat awan-awan putih berarak di bawahku. Ya …, Aku berada di sebuah ruangan kelas di langit yang tak jelas lapis ke berapa… Kurasakan kau menghampiriku dan berdiri di samping kananku. Menyilangkan tanganmu di atas bingkai jendela yang sama tempatku bersandar lalu menumpangkan dagumu di atas kedua tanganmu. Read the rest of this entry »

CInta Adalah…

January 18, 2007

Enam tahun yang silam cinta menyapaku, ia ceritakan mimpi-mimpinya tentang kebahagiaan, ia mengajakku terbang bersama angan-angan dan berkata bahwa ialah satu-satunya alasan atas penciptaan makhluk bernama manusia. Saat aku mencoba meraihnya, ia pergi dengan alasan bahwa waktunya bersamaku sudah habis. Cinta telah mengkhianatiku untuk pertama kalinya.

Satu purnama berlalu, kali ini cinta datang dalam wujud yang lain, ia hadir karena sebuah kekecewaan. Kali ini aku berusaha untuk lebih pintar dengan tidak begitu saja memercayainya.

Tiga kali bumi mengitari surya, aku mulai memahaminya. Ia adalah cinta yang penuh kesederhanaan. Ia cinta yang menyimpan kepedihan atas kegagalan dan harapan atas kebangkitan. Ia tidak bercerita tentang kebahagiaan, ia membuatku sadar bahwa kebahagiaan adalah bagian dari dirinya. Read the rest of this entry »

Aku ingat ketika pertama kali aku memasuki ruangan itu, ruangan itu memang tidak terlalu besar, paling-paling hanya berukuran 3 kali 4 meter. Di sudut langit-langit, sarang laba-laba tumbuh lebat lengkap dengan nyamuk serta sang pemilik sarang. Lantai kayunya juga sudah berwarna kelabu tertutup debu. Di sisi sebelah kanan, cahaya keemasan mencoba menembus sela-sela jendela yang terhalang gorden yang sudah rusak, sesekali gorden itu menari tertiup angin. Tapi ruangan itu adalah milikku, setidaknya aku kini mengetahui bahwa ini adalah ruanganku, setelah sekian lama tak kuacuhkan. Orang-orang menyebut ruangan itu “Hart”. Read the rest of this entry »